Anak Berperilaku Agresif Dan Sering Menentang?, Mungkin Ini Penyebabnya | KataSaya

Anak Berperilaku Agresif Dan Sering Menentang?, Mungkin Ini Penyebabnya

SILAHKAN BACA JUGA
loading...

Sahabat Saya Sekalian | Buat kamu sekalian terutama yang sudah punya anak, ketika anak kamu melakukan tindakan yang buruk atau nakal, apa sih yang akan kamu lakukan?. Mungkin kebanyakan dari kalian akan menjawab mengajarinya untuk bersikap lebih baik.

Tetapi tidak sedikit pula orang tua yang tidak segan-segan melayangkan pukulan pada anaknya, ketika sang anak berperilaku buruk atau nakal. Atau mungkin kamu juga seperti itu. Di beberapa negara memukul anak dianggap sesuatu yang wajar, terlebih ketika orang tua berusaha mendisiplinkan anak mereka yang tidak patuh.

Para ahli dalam bidang orang tua dan anak di seluruh dunia, sebenarnya masih memperdebatkan mengenai cara mendidik anak dengan pukulan ini. 

Tetapi meta-analisis terbaru yang berdasarkan penelitian selama 5 dekade tetang cara mendidik dengan pukulan dibagian tubuh tertentu menerangkan bahwa semakin sering anak dipukul, justru semakin besar kemungkinan mereka untuk menentang orang tuanya.

http://www.katasaya.net/2016/06/hukuman-pukul-beresiko-anak-jadi-agresif-dan-menentang.html

Para peneliti juga mengatakan bahwa anak yang sering dipukul, rentang mengalami masalah kesehatan berupa trauma, masalah kognitif, meningkatnya perilaku anti sosial dan sifat agresif. Studi ini dipublikasikan bulan ini melalui Journal of Family Psychology.

Sejauh ini para ahli mengatakan, bahwa studi mereka mengulas lengkap mengenai dampak yang bisa muncul akibat mendidik dengan cara memukul. Dalam analisisinya sebenarnya mereka mencakup juga bentuk lain dari hukuman fisik yang sudah dijelaskan pada karya-karya ilmiah sebelumnya. Namun tetap lebih spesifik pada efek memukul anak.

Elizabeth Gershoff, seorang Profesor dari asosisi human development and family sciences dari Texas University di Austin, dan asisten penulisnya yaitu Andrew Grogan-Kaylor yaitu seorang Profesor dari Michigan University School of Social work, meninjau hasil penelitian selama 50 tahun yang melibatkan lebih dari 160.000 anak.

Penelitian kami berfokus pada apa yang kebanyakan orang Amerika sadari sebagai memukul biasa, bukan pada tindakan yang menjurus pada kasar. Kata Gershoff.

Mereka menyimpulkan bahwa ternyata ada korelasi antara pukulan pada anak-anak dengan 13 dampak dari 17 dampak yang berhasil mereka temukan.

Kami menemukan bahwa pukulan berkaitan dengan hasil merugikan yang tidak diinginkan, dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan kedisiplinan secara langsung atau yang bersifat jangka panjang seperti halnya apa yang diinginkan orang tua saat mereka memukul anaknya. Sambung Gershoff.

Para peneliti itu juga bertanya kepada orang dewasa yang pernah mengalami hukuman dipukul oleh orang tuanya semasa kecil, mengenai dampak jangka panjang yang terjadi akibat sering dipukul ketika anak-anak. Mereka menjawab bahwa dampak yang terjadi adalah adanya prilaku anti sosial dan masalah kesehatan mental ketika mereka masih kecil. Dan mereka juga cenderung melakukan hal yang sama kepada anak-anaknya.

Berdasarkan laporan UNICEF pada tahun 2014 lalu, sekitar 80% orang tua di seluruh dunia sering memukul anak mereka dalam memberi hukuman. Gershoff mencatat bahwa orang tua sering memukul anak-anaknya, tanpa memikirkan terlebih dahulu mengenai ada atau tidak adanya dampak positif dan negatif pada perilaku anak-anak mereka dari tindakan tersebut.

Para ahli juga sering membandingkan antara memukul dengan kekerasan fisik

Kita sebagai masyarakat awam sering berpikir bahwa memukul berbeda dengan kekerasan fisik. Namun penelitian kami menunjukan bahwa memukul berkaitan erat dengan dampak negatif yang diterima anak ketika mereka menerima tindak kekerasan, meskipun dampaknya berada pada tingkat yang sedikit lebih rendah. Kata Gershoff.

Bagaimana pun, perbandingan seperti itu selalu menimbulkan reaksi yang beragam, meskipun para psikolog berpendapat bahwa hukuman fisik dan kekerasan fisik sebenafrnya cukup serupa.

Gershoff juga mencatat bahwa hasil yang koheren, dari studi dan laporan yang dikeluarkan baru-baru ini oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). CDC menyerukan “keterlibatan publik dan kampanye pendidikan serta pendekatan legislatif untuk mengurangi hukuman fisik,” termasuk pukulan, sebagai upaya untuk mengurangi tindakan kekerasan fisik yang terjadi pada anak.

Gershoff berkata Kami berharap bahwa penelitian kami dapat membantu memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai potensi berbahaya dari perilaku memukul anak dan berharap agar para orang tua bersikap lebih bijak dalam memberi hukuman serta memilih hukuman yang bersifat lebih positif untuk mendisiplinkan anaknya.

Di Swedia memukul anak sudah dilarang sejak tahun 1979. Sementara baru-baru ini, pemerintah Kanada mengusulkan untuk mencabut peraturan yang mereka sebut “hukuman pukul”. Sebagian orang tua setuju dengan usulan pemerintah tersebut, sementara yang lain menentang hal itu.


Itulah ulasan mengenai hukuman fisik berupa pukulan pada anak, berpotensi menyebabkan anak berperilaku agresif dan sering menentang orang tuanya. Semoga informasi tersebut bermanfaat serta dapat menambah wawasan kamu sekalian.
loading...

Subscribe to receive free email updates: